Bagi Hasil Keuntungan dari Aktivitas Bersama Tanah Properti

Properti Kampung Kurma 

Dunia properti khususnya di negara berkembang seperti di Republik Indonesia, memiliki karakteristik, peraturan, perizinan, dan ciri khas tertentu
dimana tidak saja terkait dengan motif quadrant ekonomi, namun juga berkaitan dengan hubungan vertikal dengan Pemerintah/Pemda setempat, hubungan
horisontal dengan lingkungan, sosial-kultural masyarakat, maupun dengan riwayat dari kepemilikan properti tersebut.
Dalam artikel ini difokuskan/penekanan pada pemilik properti tanah [lahan/kavling] yang Luas, walaupun sudah terjadi pewarisan turun-temurun [antar generasi].
Bagi mereka pemilik tanah [lahan] properti yang relatif cukup luas, yang mengalami kesulitan atau tidak ada pengetahuan untuk:
– tidak tau bagaimana cara memberdayakan atau memanfaatkannya
– tidak tau bagaimana cara melegonya karena sebelum-sebelumnya tidak terjadi akad/kesepakatan dengan calon pembeli
– tidak ada calon pembeli perseorangan yang sanggup membeli, karena tanahnya terlalu luas dan rumit proses aturan perizinan & pajaknya.
– tidak ada dana dan sumber pendanaan untuk membangun rumah perumahan, & tidak tahu mekanisme pembangunannya
– tidak tau cara melakukan aktivitas kerjasama (kooperasi lahan) dan tidak punya akses ke pemilik modal/dana besar.
– tidak tau prosedur dan mekanisme untuk melipatgandakan manfaat asset properti lahannya.
– tidak tau cara menyewakan propertinya, sehingga para investor lahan tidak bisa memperoleh [‘value added’] atau nilai tambah dari investasinya.
– selalu ditolak oleh sumber pendanaan [Baitul Mal] atau investor pemilik modal, sebagai jaminan pinjaman dana untuk tanah [lahan] yang luas,
sehingga akan sukar untuk dilego [dijual lagi] karena sudah umum diketahui hanya sedikit orang yang punya dana berlebih.

Sebenarnya ada langkah-langkah solutif untuk mengatasi problema properti tanah [lahan] di atas tersebut.
Pada tahap awal adalah pemilik lahan tersebut bersedia dan melakukan properti tanah kooperatif [kerjasama lahan] dengan suatu pengembang properti [developer]
dan selanjutnya sang pengembang/developer tersebut yang akan menyediakan solusi pendanannya dan melakukan pembangunan fisik propertinya,
sekaligus memasarkan dan menjual properti perumahan/lahan kavling tersebut.

Baca  Sulitnya Menanam Pohon Kurma di Indonesia dan Ini Solusinya

Sebelumnya ada kategori dan beberapa persyaratan agar bisa terjadi kooperasi [kerjasama] lahan properti, antara lain yakni :
a. Posisi properti di lokasi strategis, di perkotaan.
b. Posisi properti di lokasi yang tidak jauh dari jalan utama [jalan arteri]
c. Posisi properti lokasinya bisa dimasuki kendaraan roda empat [mobil, dll]
d. Riwayat properti lahan/tanah tidak bermasalah/tidak dalam sengketa
e. Properti dimiliki tunggal oleh 1 orang [tidak ada surat/sertifikat ganda]
f. Surat hukum propertinya [sertifikat] Tidak sedang dijaminkan/diagunkan ke pihak lain.
g. Sudah bersertifikasi dari BPN & Notaris/Pejabat PPAT, minimal HGP, HGU, atau HGB, sebaiknya terutama sudah SHM seperti di kampung kurma

Beberapa kriteria & langkah-langkah dari pemberdayaan/pemanfaatan properti tanah/lahan di atas tersebut,
bertujuan untuk memberikan jalan keluar [solusi] kepada para pemilik properti lahan yang mengalami kesulitan dalam memberdayakan masyarakat kampung kurma

maupun yang bertujuan untuk melego atau menjual properti tanah/lahannya.
Para pengembang [developer] properti selanjutnya akan memanajemenkan/mengelola, serta membangun properti tanah [lahan/kavling] tersebut dan mengkonversikannya menjadi
suatu proyek properti [pembangunan rumah, town house, residensi/cluster, maupun bentuk properti lainnya]
dengan demikian properti tanah [lahan] itu akan menjadi bermanfaat dan lebih memiliki daya guna ‘added value'[nilai tambah]
sehingga berikutnya akan lebih prospektif untuk dipasarkan, disewakan lagi, maupun untuk dijual.
Kepada para ‘owner’ atau pemilik properti lahan [tanah] itu juga akan memperoleh multi profit [keuntungan berganda],
yakni selain memperoleh hasil pemberdayaan dari properti lahan [tanahnya] juga akan meraih keuntungan dari nilai & harga tanah,
selain profit besar dari perubahan status properti lahan/tanah dari tanah ‘nganggur’ menjadi berstatus tanah developer properti,
dan serta memperoleh ‘profit sharing’ [berbagi hasil profit proyek properti].

Baca  PEMBUDIDAYAAN JENIS KURMA TROPIS THAILAND INDONESIA

Yang perlu diingat oleh ‘owner’ [pemilik properti] bahwa properti lahan [tanahnya] tersebut Tidak terjadi balik nama kepemilikan ke pengembang,
sehingga para pemilik properti akan tetap aman &nyaman dalam jangka panjang sesuai akad/kesepakatan di awal sebelumnya.
Para pemilik properti lahan tersebut adalah juga sebagai Pemilik Proyek, dan sang pengembang properti [developer] fungsinya
hanya sebagai manajemen proyek/pengelola proyek kampung kurma
Jadi sangat eksplisit dalam proyek tersebut, bahwa sang pemilik properti tanah [lahan] sangat diuntungan, aman dan nyaman ke depannya.
Maka akad dari proyek ini adalah kemitraan [partnership], berbagi hasil dari keuntungan dan bukan akad transaksi jual-beli properti.
Sehingga Tidak boleh ada skema pembayaran properti lahan di muka, untuk jual-beli dan ganti kepemilikan properti tersebut.
Bila di masa depan proyek terjadi akad jual-beli properti, akad dan transaksi jual-beli itu nanti sudah jelas dilakukan & ditanda tangani oleh pemilik tanah
dengan Pembeli properti sampai balik nama kepemilikan [melalui Notaris/Pejabat PPAT]

—————————————————————————————————-

Diskon BESAR Properi Kavling Kurma, Profit 1 Pohon Kurma >> 1 Hektar kebun sawit !
Mau tau aja atau mau tau banget ?! Hubungi Official CS: Pak ASEP S. Klik WA/HP http:bit.ly/2vg6NP3